Hijab, Faith, and Consistency

This is my honest Hijab story, my Faith and my hope of consistency.

I remember I started wear hijab when I was 26 years old. I already be a mother at that time. Maybe you want to know is it hard for me to decide wearing hijab since I am living abroad? honestly no. Formerly, one thing I only worried about is just my husband acceptance for my new look. My colleague also asked me if my husband forced me to wear it. Actually my husband and I had some discussions about me wearing hijab back then in several times. From those discussions I sum up that he will love it if I wear hijab, but he will not force, so I decided to try. Honestly I did not care much the reason behind it or what will happen with me if I wear it. Because I did it with no reason at all. Just feeling ready enough to the next step of my life.  You know I was not a religious person. I was bad person, has so many sins, did not have much knowledge about religion (still don`t anyway ).  So I started my journey with my hijab. I never had a hard time because of my new look. It is so fine. But now I realized that it was one of the most important step in my life. I started wear hijab with the old me. Still had to struggle to obey all the obligations my religion told. My iman was in so low level, so weak. Hard to practice 5 times prayer and stuffs.  I never thought anything about afterlife back then. All I think that time only enjoy life and wear hijab. Yes I did not have any intentions to deepen my understanding about hijab and my faith.

Until something hit me in 2015. I started to think about dead, afterlife and all. It scared me so much, and yes it makes me realize that I was wasting my most of time in my life for wasteful things. It is the reason I try (until now) to deepen my religion to find the purpose of life. Everything is not going smooth as I hope. My iman sometimes get weak as well. And 2016 new thing hit me again, and makes me to decide I have to keep consistence to deepen my iman. It is not easy. But I promise insyaAllah I will try my best.

From all the lessons I got. I know now that hijab is not just a protection from men`s eyes. It’s deeper. It strength iman. It is symbol of women freedom. It gives me power to my heart. And of course hijab is not the only important thing in the religion. The most important thing is iman. If you have family member, or even you do not wear hijab (yet), trust me, it is okay. The only way to do is try to deepen the knowledge through Quran. InsyaAllah it will makes your iman be strong day by dayHijab and all practices will follow after it.

Consistency will be the most struggle thing after this, but do not wait until something bad  hits you.

Advertisements

Nikmatnya Jalan Kaki

Menikmati perjalanan dari kantor menuju rumah dengan berjalan kaki ternyata jadi punya waktu untuk sedikit merenungi kehidupan hehehe. Senja, mengingatkan kita betapa sempitnya waktu yang kita miliki di dunia untuk memuja-Nya, menikmati seluruh keindahan alam ciptaan-Nya, dan melupakan sejenak kesibukan kita dalam mengejar hal-hal duniawi. Kita terlalu sibuk akan segala materi yang sampai kapanpun tidak membuat kita puas, terlalu sibuk memperhatikan keburukan manusia lain, terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara kita makan atau bertahan hidup. Lupa akan makna sebenarnya hidup ini yaitu menyembah dan mencintai-Nya melebihi apapun.

IMG_0827 copy

IMG_0824 copy

IMG_0826 copy

Salju

Alhamdulillah tahun baru 2016 ini disambut salju yang cukup lebat dibanding tahun-tahun sebelumnya mengingat Kitakyushu ada kota di selatan Jepang yang jarang sekali turun salju. Putih, bersih, indah sekali. Resolusi untuk tahun 2016 ini ingin sekali bisa memiliki hati seperti salju yang lebih bersih, menghilangkan pikiran-pikiran kotor dan bisa lebih mendekatkan diri pada Allah Sang Pencipta. Aamiin.

IMG_0666 copy

IMG_0668 copy

IMG_0667 copy

 

 

 

 

 

Daisouji Project

Lebaran kali ini saya akhirnya pulang kampung juga ke Indonesia setelah 2,5 tahun lamanya ga pulang. Alhamdulillah hari yang telah ditunggu-tunggu datang juga. Kerinduan yang luar biasa dengan keluarga membuat saya nekat mengajak bayi saya yang berusia 5 bulan menempuh perjalanan 8 jam naik pesawat dan 3 jam transit. Cukup melelahkan memang, dari mulai bayi saya agak rewel selama perjalanan sampai dengan shock culture (*baca=macet) karena saking lamanya ga pulang.

Kali ini saya ga akan membahas tentang perjalanan saya bersama anak saya ataupun shock culture karena perbedaan Jepang dan Indonesia yang amat mencolok. Karena ada satu yang benar-benar buat saya jadi kepikiran, shock dan sampai ga bisa tidur. Sampai rumah pada saat keadaan lelah membuat saya ingin langsung tidur dikasur saya yang empuk dan nyaman. Tapi sesampainya di rumah saya dikagetkan dengan kondisi rumah yang sangat berantakan dan agak kotor. Keluarga saya tidak memliki pembantu rumah tangga sejak saya kuliah 9 tahun lalu. Semua anggota keluarga juga sangat sibuk. Tapi rumah saya tidak pernah seberantakan ini. Dulu saat saya belum pindah ke Jepang memang saya lah yang rajin bersih-bersih dan beberes rumah… Tapi saya ga pernah membayangkan sejak saya pindah ke Jepang semuanya jadi terasa sangat berubah. It is really unexpected!

Saya tidak menyalahkan keluarga saya karena memang saya tahu mereka sibuk dan tidak punya waktu untuk bersih-bersih. Tapi saya jadi sadar, kebiasaan lah yang bisa buat rumah jadi selalu rapi. Contohnya seperti menempatkan kembali barang-barang ke tempat semula. Dan sistemlah yang bisa menjaga rumah dalam keadaan rapi tanpa kita harus usaha banyak dan lelah. Sistem organisasi barang-barang memang harus dibuat sejak awal supaya semua menjadi lebih efisien.

Karena saya terlalu gemas dengan keadaan rumah, saya dan suami pun memulai project selama di Indonesia, yaitu project merapikan dan mengorganisasikan barang. Dimulai  dari pantry, saya berhasil membuatnya menjadi jauh lebih rapi dengan keadaan sebelumnya. Pertama saya keluarkan dulu semua makanan di pantry, dan buang semua makanan yang ga layak bentuknya dan lewat tanggal  kadaluarsanya. Kategorikan makanan-makanan yang masih layak, dan simpan di dalam bin-bin yang saya beli khusus untuk organizer. Jadilah pantry yang bersih dan semoga bisa bertahan kerpaihannya. Saya juga berpesan dengan anggota keluarga ‘mohon kerjasamanya’.

Mengingat minggu depan akan ada kekahan di rumah, jadi saya dan suami bertekad untuk daisouji . Next project masih tetap di kawasan dapur. Mohon doanya ya supaya project beresin rumah saya berhasil.

photo (1)

Hari-hari Pertama Menyusui Pasca Melahirkan

Kalau kemarin saya sudah panjang lebar cerita mengenai proses melahirkan dari awal kontraksi sampai berojol (hehe), sekarang saya mau sedikit bercerita mengenai betapa tidak mudahnya menyusui di hari-hari pertama menyusui pasca melahirkan.

 

Sebelumnya sudah tahu kan mengenai program ASI Ekslusif? ASI Ekslusif adalah program pemberian ASI (tanpa air putih, susu formula, atau tambahan lainnya) kepada bayi baru lahir sampai dengan 6 bulan. Bayi hanya boleh mengkonsumsi ASI dan obat (jika sakit dan diresepkan oleh Dokter) di bawah usia 6 bulan. Program ini didukung penuh oleh pemerintah dan sedang giat-giatnya disosialisasikan kepada para orangtua.

Pengetahuan saya mengenai ASI ini masih sangat minim karena saya belum pernah mempunyai anak ditambah saya jauh dari orangtua dan keluarga yang bisa saya tanya macam-macam mengenai pemberian ASI. Pembekalan tentang menyusui pun masih kurang dan mengakibatkan saya banyak mengalami kebingungan dan kegalauan pasca melahirkan. Kebingungan dan kegalauan saya dimulai bahkan saat saya belum melahirkan, kurang lebih sekitar 35 minggu masa kehamilan. Pihak rumah sakit memberikan pilihan kepada saya mengenai jenis nutrisi apa yang akan saya berikan kepada bayi pasca melahirkan. Karena tekat saya dari awal ingin ASIX, saya buru-buru mencari pilihan ASI. Dan ternyata pilihannya TIDAK ADA! nah loh… Saya pun bingung karena semua dokumen yang diberikan pihak RS berbahasa Jepang jadilah saya memerlukan waktu hanya untuk menerjemahkan dokumen2 itu yang lumayan juga panjangnya.

Jadi singkat saja tentang isi dokumen berupa pengetahuan nutrisi dan pilihan yang harus saya pilih. ASI akan keluar hari ke 2 setelah melahirkan (dan saya baru tahu dong kalau ASI ga langsung keluar! padahal sejak hamil ASI saya sudah sering merembes ke baju). Jadi sebelum ASI saya keluar saya harus memilih jenis nutrisi yang diberikan, apakah air gula atau susu formula (sufor). Bingung kan?

Saya berusaha mencari tahu kemana kemari tentang apa yang harus saya pilih karena jujur saya masih belum rela memberikan anak saya selain ASI. Hasil tanya kesana sini pun berkesimpulan bahwa saya harus `kekeuh` untuk hanya memberikan ASI tanpa yang lain. Lalu bagaimana dengan hari pertama yang katanya ASI belum keluar. Seorang teman pun (yang berhasil S1 ASI) bilang bahwa bayi masi memiliki cadangan makanan yang dibawa saat masih di dalam perut ibu dan masih bisa bertahan sampai ASI keluar. Setelah konsultasi dengan suami mengenai hal ini, suami pun lebih percaya kepada RS dan begitu juga saya jadi saya pilih air gula. Jadi ada 3 pilihan yaitu : 1. air gula +ASI, 2. sufor+ASI , 3. sufor. Walaupun saya bilang kalau saya hanya ingin memberi ASI tetap saja saya harus memilih, akhirnya dengan terpaksa saya memilih nomor 1.

Saya melahirkan jam 3,05 sore, pasca melahirkan saya langsung IMD selama kurang lebih 5-10 menit. Setelah itu saya dipisahkan dengan bayi karena saya harus istirahat. Pertemuan kembali dengan bayi terjadi esok harinya. Dan langsung saya susukan. Bayi saya menghisap payudara saya selama 30 menit, dan yakkkkk menghasilkan payudara saya lecet perih sekali. Suster bilang saya tidak boleh menyusukan terlalu lama, karena bisa menyebabkan puting lecet, apalagi peletakan menyusui saya belum benar (ternyata praktek peletakan menyusui lebih sulit dari teori karena mulut bayi saya yang masih sangat kecil membuatnya sulit menganga lebar). Siang hari saya mulai menyusui lagi dan dibekali air gula yang harus diminumkan ke bayi setelah menyusu. Wahhh rasanya saya masih ga tega,, tapi suami sangat percaya pihak RS dan saya pun juga ga mau gegabah jadi saya berikan air gula tersebut. Dan ternyata! bayi saya hanya minum sedikit karena seperti tidak suka air gulanya… Setelah sekitar 3 jam bayi saya tidur saya pun dibujuk oleh suster-suster rumah sakit untuk memberikan sufor pada bayi saya karena bayi menolak air gula dan sampai saat ini bayi baru satu kali buang air besar (yang seharusnya BAB bayi baru lahir harus sering untuk mengeluarkan kotoran-kotoran sisa saat masih diperut). Oh my GOD! saya bener-bener ga rela. Karena saya sudah konsultasi ke group AIMI tentang masalah ini dan semuanya kompak bilang harus menolak pemberian sufor membuat saya semakin galau ditambah dengan baby blues yang menyerang sepertinya saya jadi mudah sensitif dan lelah yang luar biasa masih terasa pasca melahirkan, ditambah pula suami yang memang sama seperti saya pengetahuan tentang ASIX masih sedikit dan mengharuskan saya nurut kepada suster-suster tersebut. Dan akhirnya saya beri bayi saya susu tersebut.

Keesokan harinya saya tanya kembali apakah saya boleh hanya memberikan ASI kepada anak saya. Dan mereka pun mulai mengukur ASI saya dan bilang bahwa ASI saya belum cukup jadi harus tetap ditambah dengan susu formula setelah menyusu. Badan saya yang luar biasa lelahnya membuat saya tidak bisa melakukan apapun, hanya menurut. Kelelahan yang saya alami ini sungguh lumayan tidak terbayangkan sebelumnya kalau menyusui seperti ini lelahnya. Pasca melahirkan saya belum bisa mendapat tidur banyak, paling hanya 1-2 jam saja semalam. Hal ini dikarenakan anak saya setiap 1-1,5 jam selalu bangun untuk menyusu (karena saya memilih untuk rawat gabung dengan anak saya) dan siang harinya saya tidak pernah bisa tidur karena pihak RS selalu mengetok kamar saya untuk keperluan banyak hal setiap harinya. Sebenarnya bisa saja saya menitipkan anak saya dan tidur pulas malam harinya, tapi saya tidak rela kalau mereka memberikan sufor full malam hari kepada anak saya. Dan ternyata rawat gabung inilah yang membuat ASI saya semakin banyak. Malam ke3 ASI saya sudah sampai merembes-rembes, saya pun bandel pada malam hari saya tidak memberikan sufor setelah saya menyusui. Keesokan harinya saat diukur ASI saya ternyata sudah CUKUP!! alhamdulillah, saya senangnya luar biasa, jadi saya ga perlu lagi menambah sufor.

Alhamdulillah perjuangan saya tidak tidur selama berhari-hari membuahkan hasil. Jikalau saya saat itu menyerah karena super lelah tidak tidur pasca melahirkan (suami saya berkali-kali bilang saya titipkan saja bayi saya supaya saya bisa istirahat karena dia kasihan sama saya), mungkin ASI saya tidak akan mencukupi dan terus ditambah sufor. Setelah hari ke6 saya pun pulang ke rumah dan perjuangan menyusui masih terus berjalan dan tidur hanya 2-3 jam sehari juga masih berlanjut sampai kurang lebih 2 minggu pasca melahirkan. Setelah 2 minggu saya bisa tidur 2 jam kemudian menyusui tidur 2 jam menyusui lagi dan begitu seterusnya.

Sampai saat inipun terbangun 3 jam sekali setiap malam untuk menyusui adalah hal yang sudah biasa untuk saya. Perjuangan menyusui memang tidak mudah tetapi menyenangkan loh. Dan kalau dipikir-pikir bisa jadi lebih mudah dibanding harus membuat sufor, dari mulai masak air, cuci botol, sterilisasi, dll. Kalau menyusui hanya buka baju, jlep,,sedot deh,, hehehe.

Sebenarnya sering saya sesali kejadian harus minum sufor diawal tersebut, seandainya saya dan suami sudah banyak pengetahuan mengenai ASI dan banyak baca kembali dokumen-dokumen dari AIMI mungkin saya bisa nekat tidak kasih sufor pada anak saya. Tapi yasudah mungkin itu keputusan yang terbaik saat itu mengingat minimnya pengetahuan dan tidak ada sanak saudara. Yang jelas untuk siapa saja yang mau memberikan ASIX harus cari RS yang mendukung ASI secara penuh atau konsultasikan dengan jelas kepada pihak RS bahwa kita hanya mau ASIX.

Perjuangan menyusui belum selesai dan ga cuma sampai disitu aja masalah yang saya hadapi, banyak masalah-masalah yang saya temui saat menyusui sampai sekarang, intinya menyusui memang ga mudah tapi harus sabar, karena kita harus yakin ASI adalah yang terbaik untuk kita. Selamat menyusui!

Oshiire makes my home so clean

Pernah menonton film doraemon tentunya kan? Kalau diperhatikan si doraemon ini selalu tidur di lemari. Nobita pun tidak memiliki ranjang seperti kebanyakan anak-anak di Indonesia. Mungkin sebagian orang sudah banyak yang tahu kalau kasur Nobita disimpan di dalam lemari pada siang hari. Arsitektur Jepang tradisional maupun modern masih menggunakan lemari serba besar ini yang dalam bahasa Jepangnya adalah oshiire. Oshiire dibuat secara built-in tidak seperti di Indonesia yang kebanyakan lemari berupa furniture. Lebar oshiire sendiri kurang lebih selebar ukuran tatami sekitar 91 cm. Pada apartemen saya yang memiliki 3 ruang, dapur dan kamar mandi hanya memiliki satu oshiire tapi sangat panjang. Bukan hanya pakaian saja yang ada dalam oshiire ini, tetapi juga barang-barang lain seperti kasur, selimut, koper, penghangat/kipas angin (yang ditaruh di oshiire jika musim berganti), dan lain-lain. Saya akui penggunaan oshiire ini membuat rumah saya terlihat lebih clean mengingat ukurannya tidak terlalu besar. Jika saya akan mendesain rumah saya di Indonesia, oshiire ada dalam daftar wajib saya nanti.

 

house plan

house plan

oshiire

oshiire

oshiire

oshiire

Please bring back your trash

Have you ever find it difficult to throw garbage in Japan due to difficulties in finding trash can in public area unless in convenience store? In Indonesia the catchphrase is “Throw the garbage into its place” whereas in here  “Please bring back your trash”. That’s why I always carry a plastic bag in my purse. People who take a walk with their dogs/pets always carry a small bag to take the poop. Even once in nursery room, there was a warn about bringing back the used diaper so that I hanged out with my baby diaper and his poop in it in my purse. Can you imagine? haha

 

10269499_10152205679953096_1232182672899374448_n